Abu vulkanik dari Gunung Kelud telah menyebabkan gangguan pernafasan dan mengganggu bagian tubuh terutama mata. Abu vulkanik yang sangat kecil berpotensi menyebabkan ISPA karena terhirup saat bernafas. Abu vulkanik ini super kecil (mikron) sehingga tidak terlihat secara kasat mata. Abu vulkanik kurang dari 10 mikron dapat masuk ke saluran nafas dan bila kurang dari 5 dapat masuk ke saluran nafas bagian bawah. Demikian juga apabila terkena bagian tubuh seperti mata maka akan menimbulkan iritasi ringan sampai berat.
Jual Alat Kesehatan dan Jas Dokter Murah
14 Februari 2014
Waspada Abu Vulkanik Gunung Kelud Menyebabkan ISPA dan Gangguan di Mata
30 Oktober 2008
Ilmu Penyakit Paru: Asma Bronkial

Olahraga pada penderita asma…bolehkah?
Sesak napas bisa mengakibatkan kerja otot-otot saluran napas tidak seimbang satu sama lain. Untuk menguatkan dan menyeimbangkannya, pengidap asma disarankan untuk berolahraga. Pada artikel sebelumnya disebutkan bahwa olahraga merupakan salah satu factor pencetus asma. Tapi di sisi lain memang, olah raga ibarat pisau bermata dua pada penderita asma. Sebenarnya olahraga yang bagaimanakah yang dilarang dan bagaimanakah yang dianjurkan?
Sebenarnya kegiatan yang dimaksud olahraga adalah kegiatan otot tubuh yang volume dan intensitasnya melebihi yang biasa dikeluarkan seseorang dalam kehidupan sehari-hari, yang dilakukan beberapa kali dalam seminggu. Yang menjadi pencetus asma ialah olahraga yang tidak rutin dilaksanakan dan langsung olahraga berat. Misal badminton, tennis, jogging. Hal ini mengingat bahwa setiap peningkatan kegiatan fisik selalu harus disertai peningkatan penyediaan oksigen dalam darah, maka selalu akan terjadi peningkatan frekuensi maupun intensitas pernafasan. Bersamaan dengan itu akan terjadi peningkatan peredaran darah (jantung akan bekerja lebih keras dan lebih cepat, sehingga darah mengalir lebih cepat dan banyak untuk dapat mengantar oksigen yang sekarang dibutuhkan lebih banyak) . Konsekuensinya akan ada pula peningkatanpenguapan air dalam saluran pernafasan, dengan kata lain akan ada pendinginan mendadak setempat. Pendinginan saluran pernafasan inilah yang menjadi faktor pencetus terjadinya asma.
Sebaliknya olahraga yang dianjurkan untuk penderita asma adalah olah raga yang dimulai secara bertahap, didasari rasa senang dan hobi, dan tidak ada paksaan untuk secara segera bermain mati-matian. Dengan demikian system pernafasan dan peredaran darah tidak akan menerima beban yang terlalu berat secara mendadak, dengan kata lain peningkatan pernafasan akan terjadi secara bertahap, dan dengan demikian factor pendinginan juga tidak akan mengkagetkan dan pasien tidak akan mendapat serangan sesak. Juga dengan olah raga teratur akan ada rangsangan yang teratur pula untuk menghasilkan hormone adrenalin tubuh yang memang diperlukan untuk peningkatan aktifitas tubuh, dan yang kebetulan juga dapat melonggarkan pernafasan.Jadi, masih ragukah anda untuk olahraga??
20 Oktober 2008
Ilmu Penyakit Paru: Asma Bronkhial
Asma Bronkhial yang biasa dikenal dengan sakit bengek, asma, mengi, ampek merupakan penyakit saluran nafas yang cukup banyak ditemui di masyarakat terutama anak kecil. Di dunia prosentasi penderita asma diperkirakan sekitar 7,2 % ( 6% pada orang dewasa dan 10% pada anak-anak)
Secara klinis, asma adalah suatu serangan sesak yang disertai suara nafas ngik-ngik (Dalam bahasa kedokteran disebut wheeze/wheezing ) yang dapat timbul sewaktu-waktu dan dapat hilang kembali (sempurna atau hanya sebagian), baik secara spontan maupun dengan obat-obatan tertentu. Selain itu terjadi kemunduran beberapa fungsi pernafasan karena penyempitan saluran pernafasan bagian bawah yang juga bersifat reversibel. Penyempitan utamanya terjadi karena nafas yang berbentuk pipa kecil mengkerut. Selain itu produksi dahak yang berlebihan juga mempersempit saluran nafas. Hal ini selain mengakibatkan sesak nafas juga akan mengakibatkan pasien asma akan mengeluh batuk untuk mengeluarkan dahak yang ada di saluran nafasnya.
Kenapa bisa terjadi serangan?
Sebenarnya dasar ilmiah utama asma bronkhial adalah terjadinya peradangan (inflamasi ) pada paru pasiennya. Selain itu pada pasien juga terjadi hiperreaktifitas saluran nafas, artinya saluran nafasnya mudah terangsang. Sebagai analogi mungkin dapat dimisalkan bahwa saluran napas pasien asma adalah seperti putri malu, kalau disenggol akan kuncup, sementara saluran napas orang sehat dimisalkan seperti daun mangga yang bila disenggol tidak akan kuncup. Jadi, kalau ada debu beterbangan, misalnya, maka orang asma akan mengeluh sesak, sementara orang sehat-yang saluran napasnya tidak hiperaktif-terkena debu yang sama tidak akan mengeluh apa-apa. Inilah salah satu beda mendasar antara orang asma dengan yang tidak asma.
Daun putri malu baru akan menguncup kalau disentuh. Kalau tidak disentuh dia tetap berkembang. Demikian juga dengan orang asma, harus ada sesuatu yang "menyentuh"-nya. Kerentanan seorang penderita asma terhadap satu atau lebih faktor pencetus lain bervariasi dari seorang ke orang lain. Berbagai macam faktor yang dapat menjadi pencetus terjadinya asma antara lain :
1. Fisik misalnya udara yang dingin, latihan fisik/jasmani, kurang tidur.
2. Kimia non industri misalanya pengharum atau penyegar ruangan
3. Berbagai asap
4. Kimia industri dan laboratorium
5. Infeksi, muali dari pilek, sinusitis (infeksi rongga hidung), infeksi kerongkongan ( faringitis) dan lain-lain
6. Obat dan makanan tertentu
7. Faktor psikogen
8. Faktor allergen yang berada di udara dan bahan-bahan pencetus organis lain.
Bagaimana gejala terjadi serangan?
Saat serangan asma, biasanya pasien menunjukkan penampilan khas yaitu sesak nafas berat dengan suara ngik-ngik yang terdengar pada pernafasan, muka tegang. Tampak pula cuping hidung melebar yang saat bernafas, dan otot nafas bantuan bekerja secara aktif ( tampak jelas pada leher depan dan kiri). Selain itu penderita berkeringat banyak dengan jantung yang berdenyut cepat disertai batuk-batuk tanpa mengeluarkan dahak (baru akan keluar setelah serangan mereda). Apabila serangan parah maka bibir, lidah, kuku akan berwarna kebiru-biruan. Serangan biasanya sering terjadi pada malam hari atau menjelang dini/pagi hari. Hal ini disebabkan karena pengaruh hormon kortisol yang kadarnya rendah ketika pagi serta berbagai faktor lainnya.